NO TIME TO DIE (2021) REVIEW: Enjoyable But Not Memorable Send Off from Craig’s Era


Era Daniel Craig telah menuju ke akhir pertemuannya. Dengan No Time To Die, ini adalah installment terakhir dari James Bond darinya yang sudah menemani penonton sejak debutnya di Casino Royale pada tahun 2006 silam. Banyak sekali perdebatan yang terjadi, siapa yang akan menggantikan sosok James Bond ini nantinya.

Tapi, tunggu dulu, mari kita simak bagaimana No Time To Die yang diarahkan oleh Cary Joji Fukunaga ini tampil secara presentasi keseluruhan. Ya, ada pergantian sutradara di installment terakhirnya ini dari Sam Mendes yang telah mengarahkan Skyfall dan Spectre.165 Menit durasi dari No Time To Die ini menjadi film James Bond dengan durasai terlama yang pernah ada. Sebagai installment konklusi, dengan durasi merentang panjang seperti itu mungkin menjadi hal wajar. Banyak sekali konflik yang harus diselesaikan agar tak menimbulkan banyak pertanyaaan.


Naskah yang ditulis ramai-ramai oleh Neal Purvis, Robert Wade, Phoebe Waller-Bridge, Scott Z. Burns dan sang sutradara sendiri ini membuat No Time To Die sepertinya terasa tumpang tindih. Dengan rentang durasi yang cukup panjang, problematika yang ada di filmnya pun terasa banyak. Mengulik tentang kompleksitas setiap karakternya dengan harapan memiliki impact besar bagi perkembangan setiap karakter dan konflik utama dari film itu sendiri.



Sepertinya ada banyak visi yang berusaha dimasukkan ke dalam naskahnya. Ada banyak sekuens adegan yang mungkin bisa dipangkas. Dengan konflik utama yang seharusnya bisa berjalan sedikit lebih straightforward, tapi masih harus melewati berbagai macam jalan berliku hingga akhirnya James Bond bisa mendapatkan apa yang diincar dalam hidupnya kali ini.


Yes, hidup James Bond (Daniel Craig) bersama dengan Madelleine (Lea Seydoux) ternyata belum seaman yang mereka kira. Setelah berhasil lepas dari komplotan Spectre yang menyerang mereka. Tapi, ancaman itu kembali hadir di kehidupan mereka. Membuat keduanya yang sudah merasa tenang dengan kehidupannya bersama-sama harus terusik kembali. Dan mereka pun harus berpisah di persimpangan dan menjalani kehidupan masing-masing.


Tetapi, berbulan-bulan kemudian, ancaman itu kembali hadir. Akhirnya, James Bond turun tangan untuk menyelesaikan masalahnya. Meskipun, dirinya sudah memutuskan untuk pensiun sebelumnya. James mencari cara untuk menemukan komplotan yang membuat senjata tanam di dalam DNA seseorang dan sangat mematikan. James Bond pun berusaha untuk membuka sindikat tersebut.



No Time To Die dimulai intensitas spektakel aksi yang luar biasa gemilang. Menggunakan kamera IMAX yang semakin memperkuat intensitas dari filmnya itu sendiri. Sebuah pengenalan konflik yang cukup memberikan atensi penonton untuk mencari tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak hanya memainkan intensitas di aksinya, tapi juga emosi penonton untuk bisa bersimpati dengan ke dua karakternya.


Apalagi, dua karakter utama ini pun sudah di build up di film sebelumnya. Tetapi, Cary Joji Fukunaga masih bisa mempertahankan rasa fragile dan vulnerability dari karakter James dan Madellaine di dalam filmnya. Hingga di satu adegan kunci di opening filmnya, penonton bisa merasakan emosional atas hubungan mereka hingga masuk ke dalam khas opening card James Bond dengan iringan lagu Billie Eillish itu.


Suasana film yang sudah terjaga itu ternyata tak bisa konsisten di sepanjang perjalanannya. Selama 163 menit, konflik yang sebenarnya terjadi lebih cepat terasa ditarik ulur untuk memenuhi durasi. Beberapa karakter tambahan, konflik yang seharusnya bisa diringkas mungkin bisa membuat No Time To Die bisa tampil solid daripada yang ada.



Memang, No Time To Die ini secara presentasi masih di atas rata-rata. Tetapi, ada rasa yang hilang di dalam filmnya secara keseluruhan. Sebagai sebuah kisah penutup, villain yang ada di dalam film ini pun kesannya lemah. Rami Malek tak pernah terasa intimidating dibanding dengan villain di film-film Craig’s Era Bond sebelumnya. Kurang ada ancamana yang punya urgensi untuk diselesaikan dan penyelesaian yang hadir di film ini pun terkesan seadanya.


Meskipun, ending filmnya memiliki sebuah send-off yang besar juga impact-nya bagi penggemar James Bond, khususnya untuk era Daniel Craig. Sebuah ending yang powerful, bahkan Cary Joji Fukunaga juga bisa memberikan rasa lebih di beberapa adegannya. Hanya saja, konsistensinya tak terarah. Penonton bisa saja merasakan hal itu absen di dalam filmnya. Sungguh sayang sebenarnya. Apabila segala rasa itu bisa dia jaga dan diakumulasikan, No Time To Die seharusnya bisa tampil lebih solid dari yang sudah ada.



Tapi, No Time To Die masih menjadi sajian yang menarik untuk ditonton kok. Memang beberapa bagian akan terasa panjang apalagi dengan segala inkonsistensi dari Cary Joji Fukunaga. 30 menit spektakel aksi di openingnya sudah menjadi alasan untuk kamu pergi ke bioskop untuk menonton film ini. Apalagi buat kamu para film James Bond, ini adalah akhir dari legacy era Daniel Craig yang wajib untuk ditonton. Siapa tahu kemungkinan James Bond hadir dengan kisah yang benar-benar baru. Meski penutupnya ini tak se-memorable itu.

Baca Juga
Related Post

Top Post Ad

Below Post Ad

close