[Movie] cin(T)a (2009)


cin(T)a

(2009 - Moonbeam/Sembilan Matahari)


Directed by Sammaria Simanjuntak

Screenplay by Sally Anom Sari, Sammaria

Produced by M. Adi Panuntun, M. Budi Sasono, Sammaria

Cast: Sunny Soon & Saira Jihan (
yup, only them…and some other faceless people we won’t care about)

Cina yg memang China dan Annisa yg memang perempuan sama-sama mencinta Tuhan, dan Tuhan mencintai mereka, tapi mereka berdua tidak dapat saling mencintai karena memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda. Itu kira2 sinopsis resmi film independen ini. Kalau terdengar terlalu puitis dan abstrak, ternyata filmnya sendiri kira2 sama abstraknya. Tidak ada penyesatan di sini, kecuali bahwa ternyata ini bukan film romansa. Jadi film ini soal apa?...Taauk…


Ada Cina (itu namanya, nama di akte katanya, gara2 petugas aktenya salah nulis….apaan sih? ^_^’), anak China dari Sumut, Katolik, lulusan SMA di Singapur, sendirian di Bandung buat kuliah arsitektur di ITB (gak disebut sih, tapi lokasinya emang gak lain dan gak bukan adalah ITB), musti cari duit sendiri utk kuliah dan biaya hidup meski keluarganya kaya di kampung, cita2 jadi gubernur setelah provinsi Tapanuli terbentuk (entah kapan ya). Ada Annisa, Jawa, cantik, Islam, angkatan jebot, mantan artis (makanya kuliah nggak kelar-kelar, tapi kaya), sedang bikin tugas akhir yg selalu gagal pas sidang, ibunya di kampung halaman kawin lagi dengan seorang yg Annisa enggan panggil “papa”, pengen jadi sutradara.


Suatu saat Cina menabrak dan ngrusak maket tugas akhir buatan Annisa. Maket diperbaiki sama Cina, hasilnya bagus, tapi tetep gagal sidang. Akhirnya Annisa minta bantuan Cina untuk bantu bikin tugas akhir lagi (anak baru lulus SMA di Singapur ngajarin arsitektur ke mahasiswa ITB tingkat akhir..?
oh well nevermind the details). Lalu lama2 mereka pacaran. Tidak mudah karena mereka beda agama, dan Annisa sudah dijodohkan dengan seorang pria di kampung halamannya (“China, tapi Islam” katanya…lha emangnye kenape? Laksamana Cheng Ho salah satu pewarta besar agama Islam di Jawa, dan dia China…), lalu Cina siap hengkang dapet beasiswa di Singapur setelah gagal berusaha dapet beasiswa di Bandung (ya iyalah, keluarga loe kan gak miskin…ah lagi2 nevermind the details).

Idenya bolehlah. Ceritanya sendiri nggak beda jauh sama sinetron (didukung ekspresi Annisa dan musik latar) dan chicklit untuk segi percintaannya, tapi mungkin agar nggak terlalu biasa, dihajarlah penonton dengan banyak kalimat2 aneh nan ajaib dan (maunya) filosofis yg meluncur dari dua orang tokoh utama kita. Dari latar belakang tokoh yg gw sebut di atas, mereka manusia, tapi selama mereka pacaran, obrolan mereka yg memang difokuskan pada yg berkaitan dengan perbedaan iman, membuat gw berpikir “mereka makhluk dari mana?” Selain latar belakang tokoh dan isu SARA, tidak ada lagi di film ini yg membumi. Maunya “beda” tapi jatuhnya terlalu cerewet, dialognya pake campur bahasa Inggris lagi. Seakan-akan Cina dan Annisa hanya diperalat naskah agar serangkaian pertanyaan2 tentang agama dan pemeluknya bisa muncul dan diujarkan, bukannya berfokus pada hubungan cinta mereka. Emang orang pacaran ngobrolnya kayak wawancara politik di Metro TV gitu yah? Okeh, mungkin memang banyak kalimat2 yg pasti mengena dan bikin kita terdiam, terutama soal ketuhanan dan agama karena memang mewakili masing2 pikiran kita mengenai topik itu (
which is good, setidaknya film ini berani), tapi kalo terlalu banyak dan nggak pada tempatnya, jadinya pretensius (sok penting, dapet istilah dari sinema-indonesia.com). Tambah lagi, konflik di klimkasnya entah datang dari mana. Alhasil, gw jadi bingung film ini mau menyampaikan apa selain pelajaran filsafat bab konsep ketuhanan.

Sebenarnya gw akan memaafkan kekurangan (atau malah blunder) di naskah hanya karena niat baiknya, maklum film independen, seandainya secara visual baik2 saja…tapi visual cin(T)a tidak baik2 saja. Dengan kamera digital, sudut fotografinya sebenernya bagus2 banget (mendukung adegan2 “simbolis” –yg mnurut gw tetep kebanyakan), dan lucu juga sih bahwa hanya Cina dan Annisa yg wajahnya terlihat jelas, yg lain paling dari belakang atau leher ke bawah (kecuali sesi wawancara dengan pasangan2 beda agama yg “sukses”), tapi semua itu dirusak sama editing ala video klip, sejak menit pertama, hasilnya: nggak ngeresep, pengecualian di dialog terakhir Cina dan Annisa. Kalo kata temen gw yg nonton bareng, tata gambarnya “kecentilan” utk ukuran film indie. Sunny Soon (sbg Cina,
of course) bermain bagus sekali, lebih bagus daripada aktor2 lokal “profesional” yg rajin nampang di bioskop kita. Sebaliknya Saira Jihan (sbg Annisa, sapa lagi) seperti abis belajar akting dari Shireen Shunkar, that’s not a compliment. Musiknya, mohon maaf buat Homogenic, kurang pas.

cin(T)a punya ide besar (udah beda agama, beda suku, beda usia, beda kemampuan akademis, beda banyaknya kekayaan, knapa gak sekalian ajah fanatik sama klub sepakbola yg beda…oh itu film lain yah hahaha ^_^’), tapi mungkin ide itu terlalu besar sehingga nggak cocok untuk disederhanakan meskipun udah ditempel dengan tema cinta (krn memang menurut gw, apapun yg berkaitan dengan agama, nggak mungkin sederhana). Wajib tonton? Emm…mnurut gw lebih ke “boleh ditonton” (masak nggak boleh ^_^), asalkan emang lagi pengen denger pertanyaan2 manusia tentang agama dan ketuhanan, bukan untuk nonton cinta2an. Ada dua orang dari film ini yg buat gw siap berkembang lebih lanjut di dunia film: Sunny Soon dan tukang sinematografi nya. Yang lain…coba lagi lain kali ya,
you’re half way there.



My score:
5/10
Baca Juga
Related Post

Top Post Ad

Below Post Ad

close