DVD BUYERS' GUIDE: Menilik 8 Distributor DVD Resmi di Indonesia

DVD, Digital Versatile Disc atau Digital Video Disc (halah, singkatannya aja rancu), tahu kan? Ini adalah format tontonan, yg sebagian besar adalah film, yang tampaknya sudah (hampir) lumrah digunakan masyarakat dunia. Untuk sekarang2 ini, tampaknya DVD masih menjadi primadona bagi konsumen home video terutama di Indonesia, tak terkecuali gw untuk urusan menonton film selain di bioskop, karena dari segi kualitas jauh lebih baik dari VCD (ya iyalah), dari segi perangkat pendukungnya masih lebih mudah dan murah, dan dari segi harga produknya lebih terjangkau daripada Blu-Ray—yg adalah generasi selanjutnya dari home video yg terjadi pula di ranah bajakan *hehehe*.



Talking-talking bajakan, gw sendiri nggak mau munafik bahwa gw pernah membeli dan menggunakan produk DVD bajakan, tapi bagi gw produk DVD yg resmi (harusnya) tetap lebih terjamin dan yg terbaik—2nd best setelah nonton di bioskop tentu saja. Kalo nggak ada yg resmi..ya..cari cara lain, toh kita bebas memilih apa yg mau kita tonton kan? *mulai plin plan*. Ya ya, gw tau kalo DVD bajakan ada kategori "masih jelek", "master", "udah ori" (kependekan dari original, =.=") dan sebagainya, terserah, tapi gw selama ini memang selalu berusaha mendapatkan DVD resmi dari film yg gw pengen, kalo memang ada barangnya dan dana juga kebetulan sedang tersedia, kenapa tidak?

Namun, membeli film dalam bentuk DVD yang dijual resmi di Indonesia merupakan sebuah dilema, terutama jika dibandingkan dengan produk bajakan. Kenapa mayoritas masyarakat kita cenderung pro-bajakan? Jelas, dari segi harga DVD resmi bisa mencapai 25 kali lipat harga bajakan. Apalagi rilisan bajakan selalu terdepan, teraktual
tapi tidak selalu terpercaya, lebih cepat dan lebih banyak judulnya. Tapi ketika sedang terpanggil untuk "bermoral" dengan cara beli produk resmi, terlepas dari harganya, nggak jarang kualitas yg didapat ternyata ngehe juga. Mending beli bajakan aja dong. Weits, tunggu dulu, emangnya bajakan aja yang ada kategori2an mutu? DVD resmi juga aada. Untuk itulah tulisan ini gw terbitkan sebagai medium sharing tentang deskripsi umum DVD resmi yang gw sebagai konsumen ketahui melalui "penelitian" independen (alias sendirian aja), tak terlalu penting dan tak berbobot tapi mudah2an tidak tak bermanfaat.

Kualitas DVD resmi di Indonesia, gw tekankan pada ketajaman gambar dan suara, memang tidak seragam, tapi dapat terindikasi dari perusahaan mana yang bertindak sebagai distributornya. Ada yang kualitasnya maksimal, ada pula yang kelihatan nggak niat jualan, dan itu ketahuan dari label distributornya. Di bawah ini, gw menyusun ranking label distributor2 DVD resmi yang ada di Indonesia berdasarkan yang paling "cihuy" sampe yang paling "iyuh". Namun untuk saat ini sampel saya kerucutkan (serasa Bab 1 skripsi) hanya dari DVD film internasional, exclude film2 Asia *modal nggak cukup*.

Gw bikin tulisan ini bukan untuk ber-snobbing ria, menjatuhkan pengguna bajakan dan mengagung-agungkan pelanggan produk resmi, nggak lah. Mau beli bajakan atau resmi itu terserah masing2 orang. Intinya pengendalian diri...bukan, intinya adalah gw mengajak teman2 semua untuk teliti sebelum membeli, supaya lebih bijak dan tidak mudah kecewa di kemudian hari *euleuh euleuh*. Efek yg gw harapkan sih supaya yang pake bajakan gak terlalu sinis dan apatis sama produk resmi terutama yg dijual di negara kita (IMHO, kalo beli murah2 dan banyak malah nanti diperlakukan asal2an dan jadi sampah, kan sayang juga), dan pengguna produk resmi agar nggak kecele sama produk2 yang "asal original" semata. Juga, mudah2an juga bisa jadi masukan bagi para distributor DVD resmi di Indonesia. Amin.

Gw mulai dari peringkat paling puncak ya, ayo di-klik read more nyah ^_^:





1. Vision Interprima Pictures
Mengedarkan DVD terbitan Buena Vista (Disney, Touchstone, Miramax, dll), Warner Bros., Universal, BBC, dsb.


Sampai detik ini Vision lah distributor DVD paling wahid di negeri kita. DVD keluaran Vision selalu ciamik, dengan kualitas dan konten yg kira2 sama seperti DVD versi aslinya (kalo konteksnya film Hollywood, ya Region 1). Gambar hampir selalu widescreen seperti presentasi asli di bioskop, anamorphic—nggak gepeng kalo di TV layar lebar, digital sound bagus, sebagian besar ada subtitel Indonesia, pokoknya komplet dan jarang mengecewakan. Pilihan judulnya termasuk melimpah, yg klasik pun kerap dirilis juga (Amadeus, 2001: Space Odissey, The Shawshank Redemption), dan sepertinya sih sejauh ini durasinya utuh nggak terpotong—karena keping DVDnya sendiri konon masih impor, sama dengan yg dijual di negara2 Region 3 lain (Asia Tenggara dan Timur kecuali Jepang). Untuk beberapa judul Vision juga menyediakan pilihan kemasan: biasa (kotak plastik itu loh, namanya keep case), steelbook (dari bahan stainless steel), atau sepaket dengan merchandise khusus; juga pilihan isi: 1 disc atau 2 disc. Segi kemasannya, yg notabene buatan sini, pun paling unggul: rapih, bersih, kotaknya berbahan oke dan kuat, covernya didesain apik dan dicetak dengan hasil yg tajam bermutu tinggi (tapi yg DVD Warner Bros. sepertinya se-kotak2nya juga masih impor, bagus lah =P).


Nggak hanya sampe di situ, harga produk Vision pun terbilang paling bersahabat dan worth to be bought. Dengan kualitas yg begitu bagus, harganya berkisar dari 79rb (1 disc) hingga 145rb rupiah (biasanya 2 disc) untuk kemasan biasa, tergantung baru-tidaknya film, atau popularitasnya, atau bahkan tergantung kontennya, semisal The Informant, The Hangover dan Ninja Assassin yg dibandrol 99rb mungkin karena filmnya nggak terlalu terkenal dan miskin fitur, atau Where The Wild Things Are yg 99rb juga tapi nggak ada subtitel Indonesia.

Secara keseluruhan, produk Vision relatif selalu memuaskan. Baiknya lagi, Vision kerap bikin sale bahkan sampe 80%!—ngabisin stok yg nggak laku2 tentu saja, hehe. Sebuah langkah yg belum berani diikuti distributor lainnya kecuali kalo mau gulung tikar (=_=!). Gw nggak pernah merasa rugi membeli produk Vision. Sayangnya, khusus DVD dari Universal Pictures, sepertinya Vision sudah nggak bikin lagi di sini, VCDnya sih masih, tapi untuk beberapa judul (knapa nggak semua?!) Vision mengimpor DVD termasuk casingnya dari HVN Singapura (misalnya Inglourious Basterds, Public Enemies, Land of the Lost, Green Zone) namun dengan harga yg nggak jauh beda dengan produk Vision lainnya. I heart you lah, Vision. \ (^o^) /



2. MagixEyes (Inova)
Menangani peredaran DVD terbitan 20th Century Fox dan MGM (yg produksi lama).

Secara keseluruhan, sejak awal kemunculannya (sekitar tahun 2003) MagixEyes senantiasa menawarkan produk yg berkualitas, setara lah dengan Vision. Memang, sekitar tahun 2008 MagixEyes sempat mencoba menawarkan rangkaian DVD film2 favorit yg di"korup" isinya, jadi cuman ada subtitel bahasa Indonesia dan nggak ada bonus features. Namun setelah kayaknya nggak memberi laba pula *sok tau*, MagixEyes kembali mengeluarkan DVD dengan kualitas bagus: widescreen, anamorphic, digital surround sound (kadang ada yg DTS selain Dolby Digital), fitur bonus yg lumayan, serta filmnya utuh tanpa terpotong. Gw sempet ngintip bahwa DVD nya made in Taiwan, mungkin itu sebabnya… ^_^.


Hanya saja, harga yg ditawarkan memang sejak dulu lebih mahal dari produk2 Vision. Untuk stok lama ada sih yg harganya 79rb atau 99rb, tapi untuk stok baru atau re-issue/re-pacakge, baik judul baru maupun klasik, paling murah rata2 129rb (1 disc dan kerap tanpa fitur bonus) dan paling mahal 169rb rupiah (biasanya 2 disc), bahkan gw terakhir liat Master and Commander re-issue 2-disc harganya 199rb aja gitu—gw dulu beli "cetakan pertama" masih 169rb. Lagipula kalo dilihat-lihat, printing covernya yg kini dibuat lokal (dulu sih kemasannya impor juga), jadi jelek, kasar dan buram. Nggak rela juga ya, harga naik tapi kemasannya low-quality, kurang indah di mata. Untung saja kini MagixEyes cukup gencar mengeluarkan judul2 klasik. Namun, gw memang harus pikir2 dulu sebelum membeli produk dari distributor ini, tergantung kondisi keuangan ^_^!.



3. MovieLine (Inova)
Pemegang lisensi DVD terbitan Paramount termasuk DreamWorks.

Menurut gw pribadi, kualitas teknis DVD MovieLine dengan Vision dan MagixEyes itu hampir setara. MovieLine lumayan telat untuk merilis DVD (baru sekitar 2007-2008...yaelah kemane aje cuy?) meski udah banyak merilis VCD sebelumnya. Kualitas DVDnya bagus: widescreen, anamorphic, digital surround sound, dan ada fiturnya. Kemasannya pun bagus dengan printing cover yg cukup oke, buatan lokal tapi masih agak mendingan daripada MagixEyes.

Tapi, di jajaran DVD berkualitas oke, MovieLine lah yg paling "licik" dalam berjualan. Range harga dimulai dari 99rb rupiah *dulu* untuk 1 disc film yg kurang komersil (misalnya Cloverfield dan No Country For Old Men), tapi sekarang umumnya baik untuk judul2 baru maupun klasik harganya dibandrol 129rb rupiah. 1 disc di sini gw tekankan karena fitur tambahannya nya 0 atau 1 biji doang. Kalo mau lebih banyak fitur, untuk beberapa judul tersedia versi 2-disc dengan harga 199 ribu (nambah 70rb untuk fitur2 yg belum tentu bagus juga, say what?). Mau yg lebih spesial? Ada versi steelbook case dengan harga 299rb rupiah, dan versi kemasan unik (misalnya topeng Iron Man) atau dengan bonus merchandise, yg harganya gw juga males nyebutnya =_=;. Jadi, untuk beli DVD keluaran MovieLine, gw harus menimbang lebih saksama daripada kalo mau beli DVD MagixEyes apalagi Vision. However, kalo untuk kualitas audio-videonya sendiri, MovieLine boleh dibilang memuaskan, apalagi gw liat distributor ini paling gencar dalam merilis film2 lama favorit dan klasik...


AKAN TETAAPI!! Satu judul telah mencemarkan respek gw terhadap MovieLine. Guys, JANGAN. BELI. DVD. WATCHMEN! Sumpah ya, ketika gw mengira disributor DVD dengan kualitas bagus dengan harga agak tinggi—plus kemasan yg oke—nggak akan merusak filmnya, but that's exactly what they did with Watchmen. Semua adegan "dewasa" di-cut atau diburam semua tanpa ada yg lolos satupun! Pantesan aja rilisnya telat...jangan2 dibikinnya di Malaysia nih DVD, bahkan sensor LSF untuk versi bioskop kita nggak segitunya kalee...Jadi kesimpulannya, DVD keluaran MovieLine layak dibeli asalkan filmnya sendiri sudah dipastikan tidak mengandung terlalu banyak hal2 yg berpotensi dicemarkan oleh pihak2 tertentu yg bertugas memperkosa keutuhan sebuah film. Cara mengetahuinya? Cek imdb.com dan perhatikan durasi/runtime filmnya, kalo berbeda sama yg ada di keterangan DVDnya, harus dicurigai. Damn!



4. Jive Collection
Memproduksi dan memasarkan DVD film2 dari studio2 independen yg pernah tayang di bioskop Blitz Megaplex tapi gak tayang di 21 Cineplex.

Bisa dibilang Jive Collection adalah distributor low-end, karena kualitasnya nggak sebagus 3 distributor yg dibahas di atas, harganya pun *relatif* jauh di bawahnya. Mohon maap kalo gw bikin distributor2 ini jadi "beda kelas" (meminjam quote dari Catherine Wilson), tapi memang demikian kenyataannya, kebanyakan distributor low-end seperti Jive ini mengedarkan film2 yg bukan dari studio besar dengan harga lebih murah dan mutu yg semampunya, beda dengan para kompetitor yg lebih bongsor. Nah, untuk di kelas yg ini, Jive Collection adalah yg terunggul. Dengan harga flat, 59rb rupiah untuk setiap produknya, DVD yang diedarkan, yang semuanya dimanufaktur secara lokal, punya kualitas yang sangat bisa dimaklumi. Presentasi gambar umumnya anamorphic widescreen, cukup jernih meski belum sempurna (masih ada pecah kotak2 di gambar cepat dan keropos2 dikit) dan memang tidak setajam DVD yg lebih mahal; soundnya digital surround, lumayan okelah walau kurang lantang. Not that bad. Tak ketinggalan setiap DVD Jive tidak mengabaikan fitur bonus meski hanya 1-2 biji saja.


Tapi keunggulan DVD keluaran Jive yg terutama adalah dari kemasannya yg bagus. Senantiasa dengan kotak transparan—plus "baju" karton di luarnya, desain covernya sangat berkelas dan menarik dengan printing yg bagus (rada kebalikan dari DVD MagixEyes). Distributor ini juga kerap menyelipkan bonus printilan seperti poster card atau pembatas buku bergambar film yang bersangkutan, mungkin sebagai kompensasi dari kualitas DVDnya, hehehe.

Overall, DVD Jive memang bukan yg terbaik secara mutu, tapi tetap yg terbaik di kelasnya, apalagi kemasannya yg oke berat, nggak kampungan, malah cenderung elegan. Nggak rugi2 amat kalo dibeli...dan so far durasinya utuh. =)



5. DutaMitra (Inova)
Bertanggung jawab dalam mengedarkan DVD produksi Sony Pictures (Columbia, TriStar, Sony Pictures Classic dll).

MagixEyes, MovieLine dan DutaMitra adalah satu keluarga dari Inova (kemungkinan bersaudara sama Disc Tarra/Tarra Group *nuduh*), dan DutaMitra adalah yg sulung. Namun apa lacur, kini kualitas DutaMitra justru yg paling memprihatinkan. Tadinya mereka rilis DVD region 3 yg diimpor, sama dengan yg dijual di negara Region 3 lain, dengan harga yg agak fantastis (199rb, padahal cuman 1 disc, dan itu di awal tahun 2000-an lho), yah ada harga ada baranglah, mutunya bagus, tapi itu duluu sekali. Mulai sekitar tahun 2002-an DutaMitra sepertinya melakukan kebijakan memproduksi DVD di negeri sendiri dengan spesifikasi dan kualitas yg gw ogah banget: gambar masih ada pecah kotak2, fullscreen a.k.a. mencukur keutuhan gambar (fyi, saya tidak suka presentasi fullscreen), fitur bonus terbatas, dan hanya ada subtitel bahasa Indonesia. Harganya pun nggak murah2 amat (59rb paling murah untuk barang yang "kayak gitu"). Tapi setelah itu, DutaMitra akhirnya agak eling dengan merilis beberapa judul dengan 2 versi (kalo gak salah mulai The Da Vinci Code): ada yg versi murahan itu, ada juga versi yg lebih lengkap dengan fitur bonus dan spesifikasi yg lebih oke: widescreen dan biasanya 2-disc (The Da Vinci Code, Casino Royale).

Nah sekarang2 ini, triknya lebih ribeut lagi. Kalo judulnya nggak terlalu terkenal, atau terkenal tapi kontennya tidak istimewa, spesifikasinya berstandar baru: anamorphic widescreen, Dolby Digital surround sound (kadang DTS juga) dan hanya ada subtitel Indonesia (teteup), bisa 1 atau 2 disc (termasuk fitur) dengan range harga 79rb (judul lama) sampe 129rb rupiah (judul baru). Jauh lebih mendingan daripada "standar masa kegelapan" sebelumnya. Untuk judul yg lebih terkenal (misalnya: Quantum of Solace, Terminator Salvation, 2012), dijual dengan berbagai variasi: 1 disc stereo sound (bukan digital surround) tanpa fitur harganya 69rb, 1 disc dengan spesifikasi "standar baru" harganya 129rb, 2 disc (ada fitur bonus) harganya 199rb, tak lupa ada versi kemasan2 istimewa dengan harga jelas lebih dari itu. Mirip dengan "kelicikan" MovieLine, bukan?

2 di kiri (Charlie's Angels, MIB) adl "generasi lama" yg masih impor.
2 di tengah (Da Vinci Code, 50 First Dates) adl produk "masa kegelapan".
Sisanya generasi baru yg kualitasnya masih di bawah generasi lama.
Kualitas audio-videonya cukup baik, cuman masih agak lemah karena masih gw liat pecah kotak2 di gerakan gambar yg cepat, serta keropos2 dikit. Menurut gw dengan yg harga demikian, dan kalo bandingannya DVD Vision atau MagixEyes, harga dan kualitas DVD DutaMitra jadi terkesan nggak fair. Harusnya yg berwenang pilih: kualitas tetap tapi turunin harga, atau harga tetap (atau naik) tapi kualitas lebih maksimal. Kalo harga original tapi kualitas lebih jelek dari bajakan/kopian, orang2 tentu lebih milih bajakan lah. Luckily, film2nya sejauh ini utuh durasinya, dan dari segi kemasan, desain dan printing covernya cukup bagus, setara sama MovieLine, tapi jelas belum setajam keluaran Vision, apalagi setajam..sil├ęt! *kriik kriik*

Gw terpaksa menaruh DutaMitra di bawah Jive—padahal DutaMitra nggak bisa dibilang distributor low-end, sebab setidaknya Jive masih lebih jujur dan sadar diri untuk nggak jual mahal produk yg berkualitas ala kadarnya.



6. Prime dan Top (PT. Duta Cinema Multimedia)
Sepasang label dari satu rumah yang sama yang menjadi distributor DVD film2 rilisan New Line Cinema, Summit, Dimension, LionsGate, Walden Media, The Weinstein Company, Miramax (kadang2), pokoknya studio2 independen yg pernah tayang di 21 Cineplex tapi nggak tayang di Blitz Megaplex.

Prime dan Top ini satu perusahaan, produknya sama, malah untuk judul yang diedarkan dibawah label keduanya (2 versi) discnya pun sama, hanya beda di kemasan aja. Label Prime adalah DVD dengan kemasan "rada normal" dan diusung dengan range harga 49-79 rb rupiah (bahkan terakhir New Moon sampe 99rb rupiah), sedangkan label Top untuk kemasan ekonomis, mirip dengan yg kita lihat di lapak bajakan, dengan memasang harga 15rb-17500 rupiah, serius. Meski memegang peredaran dari studio yg bisa dibilang kecil-kecil, distributor kembar siam ini harusnya merasa beruntung karena tak jarang kebagian judul2 film yg bermutu serta award-winning untuk diedarkan, semisal The Lord Of The Rings, The Aviator, Crash, Babel, Brokeback Mountain, Michael Clayton, The Reader, The Hurt Locker dan sebagainya, serta tak ketinggalan mereka pegang seri Twilight juga. Film2 yang besar dan atau berkualitas, pasti diharapkan format DVDnya pun berkualitas....tidak juga ternyata. Terus terang "meneliti" DVD pabrikan Prime/Top untuk tulisan ini, adalah yang paling complicated, tak mudah diterka atau disimpulkan layaknya langit musim gugur dan hati wanita *pepatah Jepang* *halah*, jadi harap maklum kalo untuk Prime/Top ini penjelasannya agak panjang.

First encounter gw dengan DVD Prime adalah film Equillibrium yg sangat buruk kualitasnya—widescreen tapi nggak anamorphic, suara kresek2 dan gambarnya kayak VCD, meski ada fiturnya. Sejak itu gw agak trauma dengan DVD keluaran Prime ini. Namun demi penelitian ini, gw memberanikan diri untuk kembali menjamah produk2 mereka. Ternyata, dari berbagai sampel2 yg gw dapet, DVD terbitan Prime serta Top, ternyata mengalami kemajuan: yang ada tulisan "widescreen" memang widescreen dan sudah anamorphic serta gambarnya halus nan tajam, sound-nya pun bagus, setara sama DVD2 yang harganya lebih mahal (kalo itu terdengar berlebihan, gini aja deh: sama dengan kualitas DVD bajakan "udah ori" a.k.a. kopian DVD asli (bukan rekaman bioskop)), otomatis lebih bagus juga daripada, misalnya, Jive yang sama2 low-end price. Mulailah senyum gw lemparkan pada distributor ini, mengingat kualitas yang baik, harganya low-end pula. Namun, ternyata gw juga nemu sampel2 yang kualitasnya bikin gw pengen giling itu DVD di food processor nya Farah Quinn: gambar kotak2, kanal kanan dan kiri soundnya terbalik (yep, benar sekali), dan sensornya kasar sekalee.

Sampel DVD berlabel Prime,
perhatikan banner abu-abu di bagian atas covernya (=_=")
Butuh waktu dan beberapa sampel untuk meyakinkan gw kenapa DVD edaran Prime/Top bisa plin-plan mambo begini, dan ternyata dihasilkan sebuah kesimpulan yang akan mencengangkan dunia per-DVD-resmi-an *lebay*: DVD Prime/Top itu sebenarnya berkualitas baik, asalkan tidak terpotong sensor. Ya, sampel2 yang berkualitas baik durasinya pasti utuh, sedangkan yang berkualitas buruk semuanya telah melalui proses peng-edit-an lokal, baik itu pemotongan adegan ataupun pemburaman atas nama sensor. Berbeda dengan DVD Watchmen nya MovieLine yang biar udah kena sensor menjengkelkan tapi kualitas teknisnya masih bagus, proses psetelah pengeditan oleh Prime/Top malah membuat DVDnya jadi rongsok. Jadi kalau ingin beli DVD Prime/Top tapi nggak mau rugi, pastikan filmnya lulus sensor secara utuh nggak diapa-apain (tanpa di-edit dari pihak distributor) karena kualitasnya akan lebih terjamin.

Woi, gimana kita tau filmnya tercemar sensor atau nggak? Naah, agak ribet sih, selain bisa sebelumnya tonton filmnya di bioskop (guess what, sensor versi bioskop masih lebih "murah hati" daripada versi DVD Prime/Top), atau cek dulu film utuhnya di bajakan atau download-an *hehehe*, juga ada cara yang udah gw coba dan cukup ampuh untuk mengetahui ini, yaitu dengan kunjungi imdb.com, cari halaman film yang diinginkan, scroll ke bawah, cari tulisan "Parents Guide", lalu klik tautan di sebelahnya "View content advisory for parents". Di sana akan ada keterangan mengenai adegan2 di film yang perlu dipertimbangkan bagi orang tua sebelum mengizinkan anak2nya yg di bawah umur untuk menonton (LSF adalah orang tua dan penonton adalah anak kecil, funny haha), seperti seks dan ketelanjangan (sex & nudity), kekerasan dan kekejaman (violence & gore), kata2 kotor dan sebagainya. Kalau kira2 ada adegan yang berpotensi atau sudah pasti kena sensor di negara kita, misalnya adegan seks yang intens, Kate Winslet topless, atau Rinko Kikuchi pamer "pintu surga" di restoran, maka sebaiknya jangan dibeli DVDnya yg diedarkan Prime/Top itu, pasti akan kuciwa. Sebaliknya kalo filmnya bersih2 saja, tidak ada seks dan ketelanjangan yg terlalu grafis atau hanya sekedar kata2 kotor, cukup amanlah untuk dibeli.

So, apakah kualitas up-down (meminjam quote dari Putri Indonesia 2009) itu menjadi alasan gw menempatkan Prime/Top di nomor 6? Well, jujur tidak hanya itu. Maunya sih peringkatnya naik, tapi man, casing-nya jelek, sumpah deh. Kemasannya, terutama Prime, mungkin salah satu yg terburuk di jajaran DVD. Mulai dari desain cover tanpa taste (percayalah, tag harga dan banner “widsecreen”/”fullscreen” beserta logo Prime berwarna abu2 adalah SANGAT ganggu dan kampungan) yang dicetak cukup kasar dan warnanya sering berantakan, sampe kotak murahan yang nggak rapih bentuknya, yang biasa ditemui di toko2 penjual CD/DVD kosong seharga 2rb-an. Oh, dan gw beberapa kali nemu salah ejaan judul ("Micheal Clayton" =.=!) dan keterangan durasi/runtime-nya pun nggak akurat. Sedangkan untuk Top, DVD hanya dibalut cover (banner “widsecreen”/”fullscreen”-nya warna kuning instead of abu2, kurang-norak-apalagi-coba), kantong plastik, plus karton penyelip (utk yg harga 15rb-an), tapi ada juga yg udah dimasukin ke kotak tipis (yg harganya 17,500), ini sih lebih bisa dimaklumi: maklum kalo agak kampungan, harganya juga murah bener (^_^;). Perlu gw laporkan juga bahwa bahan disc-nya agak2 gimana gitu, 1-2 sampel ada yg skip-skip =(. Dengan kemasan yang ringkih ini dan material disc-nya yang agak meragukan, jadi timbul pertanyaan apakah produknya akan awet, well...we’ll see.

Sampel DVD berlabel Top.
Sakit mata nggak sih loe liat covernya (=_=!)
Btw, kalo penasaran apa yang menyebabkan harga tiap2 judul berbeda-beda, sepertinya berdasarkan kontennya. Yang seharga 49rb dan 59rb (atau 15rb untuk Top) isinya hanya film tanpa fitur bonus—mungkin yg 59rb itu film yg lebih terkenal, disc-nya juga entah kenapa bewarna emas, bajakan banget deh penampakannya. Sedangkan yg 69rb ke atas (atau 17500 untuk Top) biasanya ada fitur bonusnya, bahkan untuk seri Twilight yg harganya 79rb sampe 99rb fiturnya lengkap sekali.

Jadi, untuk DVD Prime/Top, bolehlah dimiliki kalo emang ingin beli DVD kualitas “ori” tapi resmi dan bayar pajak, minus rasa bersalah =P, tapi ingat harus hati-hati karena ada beberapa produk yg mengandung “ranjau” bernama sensor yang merusak kualitas keseluruhan. Kalo bisa sih mending beli yg Top, biar hemat, hehehe.

PS: main menunya dwibahasa lho, ada bahasa Inggris dan dibawahnya bahasa Indonesia...selamet ye...



7. Parkit Film
Penerbit DVD film2 independen semisal dari Millennium Films dan The Weinstein Company, terutama yang versi bioskopnya di Indonesia didistribusi oleh Multivision Plus (MVP).

Parkit Film bisa dibilang baru dalam percaturan distribusi home video di Indonesia, dan dia memilih di jalur low-end. Hampir sama dengan Prime/Top dan Jive, Parkit bertanggung jawab dalam peredaran DVD film-film kecil atau independen, baik yang ketika tayang di bioskop adalah eksklusif di Blitz, maupun yg eksklusif di 21/XXI (anehnya nggak pernah yg dua2nya, tapi yg pasti itu yg diimpor oleh MVP), namun bukan berarti judul2nya sampah. Sampel yg gw punya adalah Vicky Cristina Barcelona dan District 9, keduanya adalah contoh film yang cukup terpuji dan "dipandang" di ajang Oscar. Tetapi sayang ow ow sayang, judul boleh harum, tapi kualitas DVDnya...tetep sampah. Seperti kembali dengan mesin waktu, kualitas DVD milik Parkit sama seperti DVD seangkatan Equilibrium keluaran Prime dahulu. Sound sih agak lumayan bening, tapi berdasarkan sample District 9 yg gw punya, mosok kanal suara kiri ama kanan terbalik *deuh*. Gambar pun sering kabur, keropos dan pecah kotak2, tidak anamorphic—mirip VCD tapi lebih tajam sedikit, kena sensor yang nggak konsisten, dan tampaknya mereka mendesain main menu sendiri tanpa mempertimbangkan keindahan visual, payah lah. Di kemasannya pun nggak dikasih tau spesifikasi lengkap: apakah fullscreen atau widescreen, sistem PAL atau NTSC, durasi film berapa lama, fitur bonus apa, single atau dual layer disc, pokoknya kita baru tahu setelah telanjur beli dan diputar di player (dhueengg). Jadi camkan ini kalau hendak membeli DVD: kalau spesifikasi nggak ditulis lengkap di kemasannya, pasti ada yang disembunyikan, which is not a good sign.


Kemasan luarnya sih cukup oke: desain covernya lebih baik daripada produk Prime, yah walaupun tag harga dan logo Parkit yg juga nimbrung di cover luar tetep terlihat norak tapi setidaknya ukurannya kecil-kecil (^_^). Kotaknya lebih bagus daripada keluaran Prime tapi memang tetep keliatan murahan, dan desain label disc nya pun masih kalah sama DVD bajakan mutakhir. Yang patut disayangkan adalah harga yang ditawarkan mulai dari 39rb hingga 59rb rupiah, lebih murah sih dari distributor2 high-end, tapi jujur, gw merasa rugi duit gw keluar segitu untuk produk yang mutunya "nggak niat". Jadi untuk sementara ini, semenggiurkan apapun judulnya, DVD terbitan Parkit Film harus dihindari dulu.



8. Duta Cahaya Utama (DCU)
Menjajakan DVD film2 independen, dan kelas B, yang umumnya tidak pernah tayang di bioskop Indonesia.

Agak males juga bahas distibutor yang ini. Di luar produk2nya yang rata2 film nggak jelas, cirinya teknisnya sebelas duabelas dengan Parkit Film, ya kualitas gambarnya yang agak kasar kayak VCD (dan fullscreen saja, aargh, hate it!), ya soundnya yang amburadul, ya sensornya juga, ya nggak ada keterangan teknis lengkap di kemasannya. Bedanya, DVD DCU dikemas lebih semena-mena. Gak ada lembar cover di casenya yg tipis dan murahan, hanya cover "baju" luar dari karton yg didesain seadanya, dengan banner merah logo DVD di bagian atas dan cap lulus sensor + tanda tangan dari LSF, serius gw.


Dari sampel The Other Boleyn Girl dan Monster's Ball yg gw punya—judul2 yg paling nggenah dari DCU, yang perlu gw catet adalah Boleyn Girl suaranya BISU ketika dipasang di DVD player gw—untung di komputer masih bisa. Ternyata dia soundnya hanya stereo, kanal kanan-kiri terbalik pula (ini penyakit DVD low-end ya?). Itu aja udah cukup menegaskan betapa DVD keluaran DCU tidak layak beli, apalagi harganya 59rb sangat tidak fair dengan rekan2 lainnya (khususnya Jive dan Prime/Top) yang dengan harga segitu punya kualitas jauh lebih mendingan. Fyi, gw beli Monster's Ball yg versi ekonomis (harga 17500 rupiah, nyolong ide Prime/Top), lebih jelek lagi kualitas dan kemasannya, well, at least nggak bisu sih. Udah ah. Pokoknya jangan sentuh DVD dari distributor ini. Skip it! *masih nggak terima beli Boleyn Girl mahal2 tapi bisu T_T*.




Kesimpulan singkat:
1. Vision >> sangat patut dibeli
2. MagixEyes >> patut dibeli dengan seizin dompet
3. MovieLine >> patut dibeli dengan seizin dompet untuk film2 yang nggak terlalu “anu anu”
4. Jive >> dibeli juga nggak apa2, tapi kualitasnya kurang maksimal
5. DutaMitra >> dibeli juga nggak apa2, tapi kualitasnya kurang maksimal, dengan seizin dompet
6. Prime/Top >> dibeli juga nggak apa-apa, tapi hanya untuk film2 yang nggak ada adegan "anu anu"
7. Parkit Film >> jangan dibeli
8. DCU >> dihiraukan pun jangan


Semoga berkenan. ^o^ v



ATTENTION:

Untuk versi termutakhir (as per Januari 2013) silahkan simak tulisan saya untuk Muvila.com berikut ini
Baca Juga
Related Post

Top Post Ad

Below Post Ad

close