[Movie] The Sixth Sense (1999)



The Sixth Sense

(1999 - Hollywood Pictures)


Written and Directed by M. Night Shyamalan

Produced by Frank Marshall, Kathleen Kennedy, Barry Mendel

Cast: Bruce Willis, Haley Joel Osment, Toni Collette, Olivia Williams, Donnie Wahlberg, Trevor Morgan, Mischa Barton



Jika ada yg tanya gw--
and that's a big "if"--apa film favorit gw, gw akan jawab The Sixth Sense. Well, mungkin kalo ditanya sekarang, apalagi setelah menonton ulang baru2 ini, film ini bukan lagi "favorit no.1" gw, tapi tetep aja, The Sixth Sense adalah cikal bakal gw bener2 suka sama yg namanya seni film, dan akan tetap dalam jajaran favorit gw sepanjang masa. Padahal perkenalan gw akan film ini lucu juga. Waktu itu gw masih SMP tahun 2000, gw belum segitu rajinnya pergi ke bioskop, dan gw gak terlalu ngeh bahwa film ini begitu populer, horor sih, nggak tertarik (dasar penakut), tapi jadi cukup tertarik setelah tau film ini masuk nominasi Oscar dalam kategori2 nggak main2 (Aktor Pendukung, Aktris Pendukung, Editing, Naskah Asli, Sutradara, dan Film Terbaik! selain perolehan box officenya tahun 1999 termsuk fantastis, hanya kalah dari Star Wars Episode I). Sebelum gw akhirnya nonton, seorang sepupu gw bahkan udah membocorkan endingnya! Lalu suatu hari gw menyewa VCD film ini, lalu nonton, dan keesokan harinya, setelah balikin ke penyewaan, gw langsung ke Disc Tarra dan beli VCDnya...I liked it a lot!

Jika ditulis sinopsisnya, The Sixth Sense cukup sederhana. Dr. Malcolm Crowe (Bruce Willis) adalah seorang psikiater spesialis anak yg sedang menangani Cole Sear (Haley Joel Osment), seorang anak sekitar 9 tahun yg
gloomy, introvert, sarkastik yang kerap ketakutan plus dengan luka2 di tubuhnya, yg belakangan mengaku bisa melihat roh orang mati ("I see dead people," anyone? ^_^). Cole ingin Crowe "menyembuhkan" dirinya agar nggak usah bisa liat hantu lagi, sedangkan Crowe yg nggak percaya hal2 begituan mencoba menyembuhkan Cole secara psikis sesuai ilmu yang dikuasainya, tanpa sadar bahwa yang dikatakan Cole bukan sekadar halusinasi belaka. Itu saja intinya.

Pengakuan: gw nggak suka horor. Gw rada penakut, dan menurut gw film horor itu kebanyakan isinya cuman aneka cara menakut-nakuti penonton tanpa tujuan jelas selain menakut-nakuti. Pernyataan ini emang bertentangan sama pernyataan gw di awal bahwa The Sixth Sense adalah salah satu film terfavorit gw sepanjang masa. Tapi The Sixth Sense bukanlah film horor seperti yg gw cirikan di atas. Soal hantu2an memang, yg identik dengan horor supranatural, tapi yang membuat film ini istimewa, terutama bagi gw, adalah pendekatan drama yang sama kuat dengan bagian horornya. Terlepas dari kemampuan ajaib sang penulis sekaligus sutradara, M. Night Shyamalan untuk membungkus ceritanya dengan solid dan rapih, sampai pada
ending maknyuss yg kemudian banyak sekali ditiru (yg memang jadi salah satu poin yg membuat film ini sangat populer), hal yang membuat gw selalu terpanggil untuk nonton ini berkali-kali adalah drama yang simpatik dan menyentuh.

Awalnya film memang diarahkan kepada apakah benar Cole melihat hantu atau tidak, dan ketika penonton tahu itu benar, apakah Crowe akan percaya dan tau bagaimana cara membantu Cole mengatasinya. Di sini gw lihat bahwa filmnya memang nggak menekankan cerita pada hantunya, tapi pada manusianya. Crowe berusaha mengenal dekat Cole dengan harapan dapat menyembuhkannya, pada perkembangannya timbul ikatan emosional dan saling percaya di antara mereka berdua, dan ini pun tersampaikan dengan sangat baik di film ini. Nyatanya, bukan hanya Cole yg punya masalah (udahlah serem ngeliat hantu, dia juga kadang kena serangan fisik), Crowe pun bermasalah dalam perkawinannya, ketika istrinya (Olivia Williams) seakan nggak peduli lagi sama dia, bahkan disinyalir mulai ada main sama cowok lain, sangat mungkin disebabkan oleh Crowe yg terlalu mengabdi pada pekerjaannya, namun Crowe tetap nggak bisa meninggalkan Cole begitu saja. Lewat hubungan Crowe dan Cole serta melalui beberapa rangkaian peristiwa, bukan hanya Cole yg dibantu Crowe, tapi pada akhirnya Crowe juga dibantu Cole. Begitu pula tentang penggambaran hubungan Cole dan sang ibu, Lynn (Toni Collette) yg harus mengasuhnya sendirian. Cole memang cenderung menyimpan "masalah"nya sendiri, sehingga kadang sang ibu tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan putranya yg selalu murung dan bertingkah aneh (dan "mengundang" kejadian aneh) itu, hanya saja si ibu "slebor" ini selalu berusaha menjadi ibu yang baik bagi Cole meski tidaklah selalu mulus, ya karena itu tadi, dia nggak tau dan nggak diberitahu apa masalah Cole. Namun gw dapat merasakan betapa besarnya kasih sayang Lynn pada Cole dan begitu pula sebaliknya, jelas tak lepas dari
chemistry para aktornya yg dapet banget (Toni Collette is such a talented actress indeed). Dengan penataan adegan yang intens dan dialog yg bagus, didukung oleh akting mumpuni oleh cast utamanya, film ini berhasil mengundang keterlibatan emosi penonton, gw setidaknya.

Nah, tapi, teteplah film hantu2an hukumnya harus horor. Bagian drama udah mantep, bagian horor pun tidak kehilangan taringnya, serem, terima kasih terutama pada musik latarnya (=.=;). Yang juga gw suka dari film ini adalah tampilan horornya nggak pecicilan (maksudnya berusaha terlalu keras untuk menakuti). Kemunculan hantu2, atau hanya tanda2nya, diletakkan dengan tepat, kadang tak disangka-sangka. Beda dengan beberapa film horor yg gw pernah tonton, film ini
scary by not scaring, menakutkan tanpa (kelihatan) sengaja menakuti. Bahkan biar udah nonton beberapa kali, gw masih aja serem sama adegan Cole pipis malem2 dan kemunculan Kyra (Mischa Barton) di "tenda" Cole, malah waktu Crowe muter kaset rekaman wawancara dengan Vincent Gray (tokoh Donnie Wahlberg tapi yg masih seusia Cole) masih bikin gw merinding aja gitu.

Maka jika disimpulkan, The Sixth Sense adalah film horor yang berhasil menanggalkan formula horor standar dengan pendekatan drama kemanusiaan yg kokoh, tapi juga tetap tidak menumpulkan unsur horornya. Itu saja sebenarnya sudah cukup untuk memuaskan gw sebagai penonton, seandainya tanpa
twist endingnya pun, film ini bakal tetap jadi film yg bagus--inilah yg bikin gw terbuai sampe bisa hampir lupa sama spoiler yg dikasih tau sepupu gw itu, jadinya gw tetep kaget ^_^;. Gw nggak tau ada film lain lagi yg seperti ini, atau setidaknya sama berhasilnya, yang pasti inilah yang membuat The Sixth Sense istimewa. Gw suka dengan penataan adegannya yg punya atmosfer khas (mungkin mirip Hitchcock? entahlah), tampak sederhana, agak lambat tapi nggak kelamaan, ritmenya tepat, dan terkesan lebih mendalam, serta, di lain pihak, mencekam. Secara teknis pun, it's just looked right. Terus terang, gw suka dengan gaya penyutradaraan M. Night Shyamalan yang seperti ini, yg terus terbawa ke karya2 selanjutnya. Gw masih fine2 aja lho dengan gaya visualnya di karya Night yg lain, bahkan yg sekacrut Lady In The Water dan The Happening sekalipun, sayang yang terlihat justru gaya penulisan naskah beliau makin kesini nggak berkembang dan makin absurd. Biarpun begitu, itu tidak mengurangi respek gw kepada The Sixth Sense sebagai film crossover horor-drama yang sukses dan memang bagus, mungkin terbaik, serta masih dan masih jadi film yg akan punya tempat di hati gw. Top dah pokoknya.



my score:
9/10
Baca Juga
Related Post

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad